Singapura: Menteri Luar Negeri Republik Indonesia Retno Marsudi meminta anggota Asosiasi Negara-negara Asia Tenggara (ASEAN)  berkomitmen dalam kerja sama yang terbuka, transparan dan inklusif untuk masyarakat ASEAN.

Mengawali rangkaian kegiatan ASEAN tahun 2018, Menlu Retno menghadiri pertemuan ASEAN Foreign Ministers Retreat (AMM Retreat) di Singapura 6 Februari 2018. AMM Retreat membahas program kerja prioritas ASEAN tahun 2018, di bawah keketuan Singapura yang menetapkan tema “ASEAN yang Tangguh dan Inovatif”.

Sesuai tema ASEAN tahun 2018,  Menlu Retno menyampaikan bahwa ketangguhan suatu masyarakat atau komunitas membutuhkan adanya perdamaian, demokrasi, dan penghormatan pada HAM.

“Ketangguhan ASEAN untuk bertransformasi menjadi masyarakat yang sejahtera  dalam satu komunitas ASEAN, tidak terlepas dari keberhasilannya selama 50 tahun terkahir untuk menciptakan ekosistem yang damai, stabil dan sejahtera di kawasan,” ujar Menlu Retno Marsudi di Singapura, berdasarkan keterangan tertulis Kemenlu RI, yang diterima Medcom.id, Selasa 6 Februari 2018.

Lebih lanjut Menlu RI perempuan pertama itu menegaskan bahwa tantangan terhadap perdamaian dan demokrasi di kawasan dalam beberapa waktu belakangan harus ditanggapi dengan kembali memprioritaskan pembangunan perdamaian dan demokrasi sebagai nilai yang telah disepakati dalam Piagam ASEAN. Hal ini penting agar ASEAN dapat tetap tangguh 50 tahun kedepan.

“Perdamaian adalah prasyarat untuk pembangunan. Akan tetapi rakyat juga membutuhkan kebebasan untuk berkembang dan berekspresi,” tutur Menlu Retno.

Selain menyoroti tantangan terhadap perdamaian dan demokrasi di kawasan, Menlu Retno juga menyampaikan bahwa kawasan Indo-Pasifik telah menjadi kawasan yang strategis dalam pembangunan ekonomi dan keamanan dunia. Menlu pun mendorong agar ASEAN mengambil langkah untuk berkontribusi membangun arsitektur kawasan Indo-Pasifik yang terbuka, transparan, dan inklusif berdasakan hukum internasional. Kerja sama yang mengedepankan dialog dalam menjaga perdamain dan stabilitas.

“Menjadi penonton dan berdiam diri bukanlah opsi bagi ASEAN dalam menanggapi berbagai tantangan dan peluang di kawasan Indo-Pasifik,” tegas Menlu Retno.

Dalam konteks ini, para Menlu ASEAN menyepakati usul Indonesia untuk melaksanakan pertemuan 1.5 track guna mengembangkan konsep arsitektur kawasan Indo-Pasifik. “Di tengah perubahan geopolitik dan geo-lekonomi serta dinamika di kawasan Indo-Pasifik, ASEAN harus terus berkontribusi dan berinovasi, serta terus berinteraksi dengan dunia guna tetap menunjukan sentralitasnya,” pungkas Menlu Retno.
 

Sejalan dalam upaya untuk berkontribusi dalam menjaga perdamaian dan stabilitas, Menlu pun menyampaikan kembali rencana Indonesia untuk menjadi anggota tidak tetap Dewan Keamanan PBB periode 2019-2020.  Dalam hal ini, ASEAN tidak saja menegaskan  kembali dukungannya kepada Indonesia, akan tetapi Menlu ASEAN juga sepakat membantu mendapatkan dukungan bagi keanggotaan Indonesia.

Dalam pembahasan mengenai upaya untuk memajukan pembangunan Komunitas ASEAN, dan memperkuat persatuan dan sentralitas ASEAN, Menlu ASEAN mengenaskan pentingnya untuk mengintensifkan kerja sama pada isu-isu prioritas. Beberapa isu prioritas yang menjadi perhatian dalam hal ini seperti, meningkatkan pendanaan bagi AHA center; memanfaatkan momentum kesepakatan framework untuk mengintensifkan perundingan CoC; memajukan kerja sama ASEAN terkait dengan penanggulangan terorisme; meningkatkan kerja sama ASEAN Smart Cities Networks (ASCN); dan meningkatkan penggunaan teknologi untuk ASEAN yang tangguh dan inovatif.

Secara khusus, para Menlu memberikan perhatian terhadap isu kepala sawit yang belakangan ini mendapat perlakuan diskriminatif di Eropa dan beberapa negara lainnya. Para Menlu ASEAN mendukung upaya negara-negara produser kepala sawit ASEAN, untuk terus meningkatkan sustainabilitas produksi kelapa sawit. Hal ini mengingat pentingnya industri kelapa sawit bagi kesejahteraan jutaan masyarakat ASEAN. 

Selengkapnya Metrotvnews