Donald Trump dan Xi Jinping adalah dua ancaman terbesar bagi perdamaian dunia saat ini. Mereka berdua adalah perundung – kerap meneror "halaman sekolah" mereka – Amerika Latin serta Timur Tengah untuk Trump, dan Asia Tenggara untuk Xi Jinping.

Ketidakpedulian, kedengkian, dan kefanatikan Trump selalu ada. Tidak sulit mengaitkan tindak-tanduk sombongnya terhadap Iran, sebagai cara untuk mengalihkan perhatian orang-orang dari masalah pemakzulan dan pemilu yang akan datang. Xi bahkan lebih jahat lagi. Pada 2016 lalu, para pemimpin dunia melihat Beijing dan Xi sebagai pusat alternatif – untuk ekonomi politik global yang prinsipil dan adil. Namun, kata-kata tidak mampu mengekspresikan kekecewaan kita semua.

Tiongkok di bawah Xi telah melupakan segala pelajaran dari Deng Xiaoping. Kerajaan Tengah (Tiongkok) sebagai sosok yang sombong dan kerap merendahkan negara lain (seperti negara-negara kita di Asia Tenggara), sama seperti Amerika Serikat. Rezimnya disebut sebagai "Seabad Permaluan" oleh negara Barat sebagai alasan untuk memanipulasi negara-negara lain.

Memang Presiden Xi menyamarkan aksi agresifnya di Laut Tiongkok Selatan dan sekitarnya sebagai bagian dari retorika "pengumpulan kekuatan dengan damai" Tiongkok. Baik Amerika Serikat maupun Tiongkok merendahkan diplomasi. Mereka meremehkan kita. Bagi mereka, kita lemah, kecil, dan miskin. Pada tahun 1960an, orang-orang Amerika memanggil orang Vietnam "gooks" atau orang bodoh. Sekarang, bagi Beijing dan Washington: kita semua "gooks."

Melihat lingkungan yang demikian, kepercayaan dunia, serta penerapan dan penghormatan terhadap aturan sudah runtuh. Maksudnya, mengapa harus menunjukkan penghormatan setara kalau mereka bisa dengan mudah menggetok kepala kita? Ini adalah kelakukan klasik bocah perundung, si tukang bully.

Kapal coast guard China di perairan ZEE Indonesia di Natuna

Adakah cara lain untuk menjelaskan betapa menyolotnya Tiongkok di Laut Tiongkok Selatan, terutama bagaimana mereka beraksi di Kepulauan Natuna – di mana perairannya merupakan Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) Indonesia? Tiongkok tidak hanya mengirim armada nelayan, tapi juga armada penjaga pantai.

Laut Tiongkok Selatan sangatlah penting. Hampir sepertiga pengiriman global – senilai kurang lebih 3,37 triliyun dollar Amerika – lalu lalang di sana setiap tahunnya. Di daerah itu juga ada cadangan energi sebanyak 190 triliun kubik kaki gas alam dan 11 miliar barrel minyak, juga 12% tangkapan ikan global.

Tiongkok mengklaim sebagian besar Laut Tiongkok Selatan, menandai peta mereka dengan "nine-dash line" (sembilan garis putus-putus), beririsan dengan beberapa negara Asia Tenggara. Tiongkok bukan hanya melanggar garis batas tersebut, namun juga membangun pulau buatan di sana.

Laut China Selatan dan dan Sembilan Garis Putus-putus

Pembicaraan tentang kode etik untuk meregulasi tindakan-tindakan di Laut Tiongkok Selatan selama bertahun-tahun, belum menghasilkan apapun sejauh ini. Benar memang Tiongkok adalah mitra dagang terbesar ASEAN, dengan perdagangan bilateral di semester pertama tahun 2019 senilai 292 triliun dollar Amerika. Mereka juga berinvestasi sebesar 255 miliar dollar Amerika untuk proyek infrastuktur di enam ekonomi terbesar ASEAN.

Indonesia – yang secara ironis di masa lalu menyatakan bahwa mereka bukan penggugat Laut Tiongkok Selatan – pada 3 kuartal pertama 2019 menerima proyek Tiongkok sebesar 3,3 miliar dollar Amerika, di mana beberapa di antaranya adalah bagian dari Belt and Road Initiative yang kontroversial.