JAKARTA - Lembaga kajian International Institute for Strategic Studies atau IISS kembali menghelat Shangri-La Dialogue, yang mengangkat tema kebijakan pertahanan di kawasan Asia Pasifik. Seiring meningkatnya perekonomian kawasan ini, masalah pertahanan dan keamanan di wilayah Asia Pasifik menjadi kian penting.

Dalam pertemuan Shangri-La Dialogue, Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu menekankan pentingnya perhimpunan negara-negara Asia Tenggara (ASEAN) untuk memiliki kemandirian pertahanan sendiri di tengah kompetisi ketat antara Amerika Serikat (AS) dan Republik Rakyat China di kawasan Asia Pasifik.

"ASEAN yang telah lama bersatu harus memiliki arsitektur keamanan untuk ketahanan demi mengatasi ancaman yang hadir di kawasan. ASEAN telah memiliki tiga kerja sama patroli di tiga wilayah perairan kawasan, yaitu Selat Malaka, Teluk Thailand, dan Laut Sulu, serta pertukaran informasi dan intelijen Our Eyes," ujarnya dalam keterangan kepada SINDOnews, Selasa (11/6/2019).

Menurut Ryamizard, ancaman terbesar di kawasan Asia Pasifik saat ini, khususnya ASEAN adalah ancaman nontradisional, seperti terorisme, bencana, radikalisme, dan kejahatan siber. Pandangan Ryamizard ini mendapat perhatian dalam pleno. Di antaranya datang dari Liselotte Odgaard, penasihat senior Kementerian Luar Negeri Denmark. Liselotte menilai, Indonesia selama ini berperan penting dalam meningkatkan kerjasama dalam mengatasi potensi konflik di Laut China Selatan (LCS). Pertanyaannya, apakah ada keterbukaan untuk memberikan peran pada negara di luar kawasan seperti Uni Eropa.