Brussel, 11 Februari 2020 – “Uni Eropa merupakan mitra dagang kedua terbesar ASEAN setelah China, kami membahas peningkatan kerja sama dengan Uni Eropa khususnya di bidang penanggulangan terorisme, kerja sama keamanan termasuk penanganan coronavirus”, demikian disampaikan Direktur Jenderal Kerja Sama ASEAN, Jose Tavares di sela-sela pertemuan ASEAN-Uni Eropa Senior Officials Meeting di Brussel pada 10-11 Februari 2020.

Pertemuan kali ini diwarnai oleh perkembangan situasi di kawasan yaitu tantangan perkembangan coronavirus yang memakan korban mencapai lebih dari 1000 jiwa. Uni Eropa menyatakan siap mendukung penanganan virus ini di ASEAN dengan mengirimkan tenaga medis, peralatan hingga berbagi pengalaman dan informasi antara ahli virologis guna mencari solusi medis yang dibutuhkan. Selain itu pertemuan juga dimanfaatkan untuk membahas perkembangan hubungan kemitraan kedua organisasi regional yang telah terjalin selama hampir 43 tahun.

Pertemuan ini juga mengangkat bidang kerja sama lainnya seperti dialog untuk membahas isu terkait hak asasi manusia, pengembangan kerja sama ekonomi, peningkatan perdagangan, ekonomi digital, revolusi industri, kerja sama transportasi, menciptakan konektivitas di ASEAN, pencapaian SDGs, hingga upaya mengatasi perubahan iklim dan menciptakan lingkungan yang berkelanjutan.

Kerja sama kemitraan ASEAN dan Uni Eropa dijabarkan pada dokumen Rencana Aksi untuk periode 2018-2022 dimana hingga tahun ketiga, lebih dari 50% action line telah dilakukan. Ketua Delegasi Indonesia, Direktur Jenderal Kerja Sama ASEAN Jose Tavares, memimpin pembahasan dalam agenda politik-keamanan dan menyampaikan tantangan keamanan yang saat ini berkembang, khususnya radikalisme dan penanganan foreign terrorist fighters (FTF) dimana Uni Eropa juga mengalami tantangan serupa. Indonesia menjadi lead sheperd pada isu keamanan dalam kerangka ASEAN.

“Saat ini, dunia tengah dihadapi oleh beragam tantangan keamanan non-tradisional. Ancaman yang hadir di satu kawasan pastinya akan menimbulkan ancaman di kawasan lain apabila tidak ditangani dengan baik” demikian disampaikan Dirjen Tavares saat memimpin persidangan di bawah agenda Security Challenges and Cooperation.

Dirjen Tavares juga menggarisbawahi pentingnya keterlibatan perempuan untuk menangani konflik di tingkat kawasan. Dalam kaitan ini, ASEAN telah membentuk ASEAN Women for Peace Registry (AWPR) yang menjadi wadah bagi para pakar dari kalangan perempuan untuk mendorong keterlibatan perempuan dalam proses rekonsiliasi dan perdamaian di ASEAN.

Uni Eropa adalah salah satu mitra penting bagi ASEAN dan memiliki kepentingan besar di kawasan, antara lain di bidang perdagangan khususnya upaya menciptakan ASEAN-EU Free Trade Agreement yang saat ini masih dalam tahap penjajakan, merampungkan perjanjian Comprehensive Air Transport Agreement (CATA) hingga berbagai bantuan UE bagi para pemuda ASEAN dalam bentuk bantuan pendidikan melalui program Support to Higher Education in the ASEAN Region (SHARE).