Tokyo, 23 Maret 2019 : “Saya sangat percaya, dengan kekuatan peran perempuan dalam mendorong perdamaian. Mari kita  bekerja sama dalam mendorong  peran serta perempuan sebagai agen perdamaian dan toleransi, ” demikian disampaikan Menlu RI, Retno LP Marsudi pada pertemuan ke-5 World Assembly for Women (WAW!) di Tokyo yang dihadiri oleh Wakil Presiden Panama, dan para Menteri Luar Negeri perempuan dari 8 negara. (23/03)


Dalam pertemuan tersebut, Menlu RI menyampaikan percaya bahwa perempuan memiliki kualitas  leadership, rasa empati, melindungi, dan solidaritas yang tinggi, sehingga memungkinkan untuk dapat menjadi agen perdamaian yang efektif.  Menlu RI menyampaikan bahwa kualitas seperti ini terlihat dalam PM Selandia Baru, Jacinta Arden, saat menghadapi serangan teror di Christchurch minggu lalu.  Langkah-langkah yang diambil PM Selandia Baru menghadapi tragedi penembakan Christchurch, menunjukan empati yang besar, yang mampu menumbuhkan solidaritas dan menunjukan pernannya sebagai “ibu” bangsa. Menurut Menlu RI, kepemimpinan PM perempuan seperti Jacinta Arden menunjukan bahwa perempuan memiliki kemampuan untuk berperan dalam berkontribusi  terhadap perdamaian.

Lebih lanjut Menlu RI menyampaikan pentingnya untuk meningkatkan partisipasi dan pemberdayaan perempuan sebagai negosiator dan mediator. Dalam kaitan ini, Indonesia dan ASEAN akan menyelenggarakan Pelatihan Regional tentang Perempuan, Perdamaian dan Keamanan untuk diplomat perempuan dari semua negara ASEAN. Diharapkan, kegiatan ini dapat menjadi momentum untuk membangun jaringan negosiator dan mediator perdamaian perempuan di Asia Tenggara. Menlu RI juga mendorong para menteri perempuan untuk mengambil langkah serupa di kawasannya untuk meningkatkan kapasitas perempuan sebagai  negosiator dan mediator perdamaian. Jaringan ini selanjutnya diharapkan dapat menjalin kerjasama dengan jaringan serupa di kawasan lainnya, sebagai kontribusi nyata perempuan dalam penciptaan stabilitas dan perdamaian global. “Saya yakin negosiatior dan mediator perempuan akan berkontribusi lebih dalam menjaga perdamaian dan kestabilan” tegas Menlu Retno.

Dalam pertemuan tersebut, Menlu RI juga menyampaikan perkembangan terkait situasi di Rakhine State dan Palestina dan peran yang dapat dimaikan perempuan. Menlu RI tegaskan pentingnya penciptaan kondisi yang kondusif untuk proses repatriasi bagi pengungsi. Menlu RI sampaikan keprihatinan atas masih adanya defisit kepercayaan antara komunitas dan pemangku kepentingan.  Dalam konteks ini, Menlu RI menyampaikan bahwa ASEAN terus berupaya untuk menjembatani dan mendukung proses repatriasi, termasuk dengan mengirimkan tim asesmen ke Myanmar.

Mengenai Palestina, Menlu RI tekankan keprihatinan akan situasi yang semakin memburuk, khususnya kondisi para pengungsi dengan terhentinya berbagai program bantuan dari negara donor. Menlu RI  tegaskan kembali komitmen penuh Indonesia mendukung kemerdekaan Palestina. Selanjutnya Menlu RI juga sampaikan hasil kunjungan ke Amman awal Maret lalu, untuk berikan bantuan peningkatan kapasitas bagi perempuan Palestina dan bantuan kemanusiaan kepada pengungsi Palestina.


Disela-sela pertemuan WAW!, Menlu RI juga melakukan pertemuan  dengan State Minister for Foreign Affairs Jepang, Toshiko Abe. Dalam pertemuan tersebut, kedua Menteri membahas upaya untuk memperkuat kerja sama bilateral, termasuk kerja sama terkait pengiriman tenaga kerja terampil Indonesia ke Jepang. Kedua Menteri juga membahas kerja sama pencapaian SDGs dan Indo-Pasifik.

Selengkapnya: Kementerian Luar Negeri