“Pelaku industri, khususnya Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) di Indonesia, perlu memahami Masyarakat Ekonomi ASEAN guna mendapatkan manfaat dari potensi pasar ASEAN. Hal itu semakin signifikan pada era Revolusi Industri 4.0 saat ini yang membuka kesempatan untuk memperluas jangkauan pemasarannya melalui pemanfaatan teknologi seperti jalur online,” demikian antara lain pernyataan Dubes Chilman pada acara Penyampaian Saran Kebijakan dan Bimbingan Teknis “Peningkatan Daya Saing UMKM Memasuki Pasar ASEAN di Era Revolusi Industri 4.0”, yang berlangsung di Kantor Disperindag DIY, tanggal 26-27 Maret 2019.

Kegiatan yang dilaksanakan dalam bentuk Seminar dan Bimbingan Teknis ini diselenggarakan oleh Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) c.q. Direktorat Jenderal Kerja Sama Ekonomi ASEAN (KSEA) bekerja sama dengan Sekretariat Nasional (Setnas) ASEAN-Indonesia dan Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag)  Pemerintah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Tujuan kegiatan antara lain untuk mengimplementasikan komitmen Pemerintah untuk membantu meningkatkan daya saing UMKM dalam Masyarakat Ekonomi ASEAN.

Kegiatan tersebut dihadiri sekitar 50 peserta yang merupakan pemangku kepentingan terkait UMKM Yogyakarta, terdiri dari pejabat pemerintahan Disperindag Provinsi D.I. Yogyakarta, serta pelaku UMKM. Beberapa narasumber yang hadir antara lain dari Kementerian Luar Negeri, Disperindag Provinsi D.I. Yogyakarta, Komunitas Bukalapak, Business and Export Development Organization (BEDO) dan pelaku usaha. Kegiatan dibuka secara resmi oleh Duta Besar Chilman Arisman dan Kepala Disperindag DIY Ir. Aris Riyanta, Msi.

Dubes Chilman dalam paparannya menegaskan bahwa peluang UMKM Indonesia memasuki pasar ASEAN melalui jalur online sangat besar mengingat pengguna internet di ASEAN saat ini telah mencapai lebih dari 390 juta, 90 persen lebih di antaranya mengaksesnya lewat mobile phone. Hal ini merupakan potensi pasar online yang besar. Ekonomi internet (belanja dan jasa online) di ASEAN diperkirakan baru mencapai US$ 72 miliar atau sekitar Rp 1.044 triliun pada 2018, masih jauh di bawah potensi yang tersedia sehingga terbuka luas kesempatan bagi perusahaan UMKM untuk mengembangkan ekonomi dan perdagangan berbasis internet. Pengguna internet diperkirakan juga akan terus meningkat pesat di masa mendatang.

Pada kesempatan ini, Kepala Disperindag DIY menyatakan bahwa para pelaku UMKM di Yogyakarta memiliki kekuatan, khususnya pada bidang produk hasil perkebunan, produk olahan makanan dan minuman, dan fashion, yang sangat berpotensi untuk diekspor bukan hanya ke ASEAN, namun juga ke negara-negara lainnya di luar ASEAN. Apalagi sektor makanan dan minuman juga merupakan salah satu sektor prioritas utama dalam pengembangan Industri 4.0 di Indonesia.

Sementara itu, Suprianda Ruru dari Setnas ASEAN menyatakan bahwa kegiatan sosialisasi dan Bimbingan Teknis kali ini merupakan upaya membuat ASEAN lebih dikenal dan bermanfaat bagi para UMKM khususnya yang berada di Yogyakarta. Setnas juga telah memprogramkan kegiatan ini dan akan terus dilaksanakan secara berkesinambungan di berbagai wilayah di seluruh Indonesia.

Pada kegiatan Bimbingan Teknis dan Pelatihan Singkat yang dilakukan oleh Komunitas Bukalapak.com.,  para peserta UMKM dilatih untuk membiasakan diri menggunakan platform marketplace online milik Bukalapak dan mencoba secara langsung teknik pemasaran online yang baik dan benar.

Selanjutnya dilaksanakan pula bimbingan teknis “Peningkatan produktivitas di tempat kerja” yang dilaksanakan oleh Lembaga BEDO, salah satu agen International Labor Organisation (ILO) di  bawah PBB yang terbesar di Indonesia. Pada kesempatan ini para peserta dilatih untuk meningkatkan quality management, clean production yang merupakan bagian dari modul SCORE milik ILO, serta bagaimana mempersiapkan produk agar laik ekspor.