(Bandung 10/12) - Kementerian Luar Negeri (Kemlu) c.q. Direktorat Kerja Sama Sosial Budaya ASEAN bekerja sama dengan Universitas Islam Bandung (UNISBA) c.q. Pusat Studi ASEAN telah menyelenggarakan kegiatan Promosi Moderasi Islam di ASEAN. Kegiatan ini berfokus pada penguatan peran generasi muda dan perempuan sebagai Ambassadors of Peace dalam masyarakat.

Sesi pertama berupa talkshow dengan tema “Islam di ASEAN: Peran Generasi Muda Mempromosikan Nilai Toleransi & Moderasi”.

Hadir sebagai narasumber dalam talkshow, yaitu: Prof. Dr. Azyumardi Azra (tokoh Islam nasional) yang menyampaikan materi tentang “Geneologi Islam ke negara-negara ASEAN”; Prof. Dr. Miftah Faridl (Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Kota Bandung) yang menyampaikan materi tentang “Misi Dakwah Islam di negara-negara ASEAN”; Dr. Ani Yuningsih (akademisi UNISBA) yang menyampaikan materi tentang “Mempromosikan Generasi Muda Islam yang Berwibawa Misi Toleransi dan Moderasi”.

Sesi kedua yaitu Focus Group Discussion (FGD) dengan tema “Menangkal Radikalisme: Peran Perempuan di ASEAN” merupakan sesi terbatas menghadirkan berbagai pemangku kepentingan khususnya akademisi di lingkungan Bandung maupun Yogyakarta (UIN Sunan Kalijaga).

Kegiatan ini merupakan bentuk komitmen Indonesia dalam mengimplementasikan 2 (dua) deklarasi ASEAN penting yang diadopsi oleh para pemimpin negara ASEAN pada Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ASEAN bulan November 2017, yaitu (kedua dokumen terlampir):

  1. ASEAN Declaration of the Culture of Prevention (CoP) for a Peaceful, Inclusive, Resilient, Healthy, and Harmonious Society ---> Deklarasi ini menitikberatkan pada upstream initiatives atau bottom up approach dalam upaya menjaga perdamaian dan stabilitas di ASEAN. Penguatan peran dan partisipasi masyarakat akar rumput inilah yang diterjemahkan sebagai upstream initiative.
  2. Joint Statement on Promoting Women, Peace and Security in ASEAN --> Pengakuan ASEAN tentang pentingnya peran perempuan dalam menciptakan dan menjaga perdamaian

Berdasarkan ASEAN Youth Development Index, komposisi generasi muda yang berusia 15-34 tahun mencapai 213 juta, atau sekitar 30% dari total masyarakat ASEAN secara keseluruhan. Ini merupakan komposisi generasi muda terbesar sepanjang sejarah ASEAN. Menurut ASEAN Statistical Yearbook 2017, komposisi perempuan di ASEAN sebesar 50,8%. Dengan demikian, generasi muda dan perempuan memiliki potensi untuk memainkan peran yang sangat besar dalam menentukan arah perkembangan ASEAN, tidak hanya untuk saat ini, tetapi juga kedepannya.

"Toleransi, moderasi dan harmoni merupakan sebuah kebutuhan bersama, yang perlu dikonstruksikan bersama secara aktif oleh seluruh elemen masyarakat, terutama generasi muda dan perempuan Indonesia”, demikian disampaikan Riaz Saehu, Direktur Kerja Sama Sosial Budaya ASEAN dalam sambutan pembukaannya.

Selanjutnya Riaz menjelaskan bahwa sebagai natural leader di ASEAN, Indonesia diharapkan untuk leading by example, yang nilai-nilainya dapat dicontoh dan diterapkan oleh negara-negara ASEAN. Sebagai negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia, Indonesia memiliki tanggung jawab moral untuk mengkoreksi, meluruskan, bahkan menghilangkan, berbagai stereotip negatif dan mispersepsi masyarakat dunia mengenai Islam. Maka, pemerintah perlu bekerja sama dengan masyarakat akar rumput.

“Ke depannya, dengan bekal pengetahuan agama yang baik, didorong oleh semangat toleransi, moderasi, harmoni, yang menjunjung tinggi ASEAN Identity, generasi muda dan perempuan Indonesia diharapkan dapat membawa perubahan yang positif, tidak hanya untuk ASEAN, tetapi terutama untuk Indonesia”, pungkas Riaz.

(sumber: Direktorat Kerja Sama Sosial Budaya ASEAN, Kemlu RI).